SELAMAT DATANG DI SDN 6 CICADAS MARI BERLOMBA-LOMBA DALAM KEBAIKAN

Breaking News

Kamis, 07 Maret 2013

Tanamkan Rasa Sopan Santun pada Anak Sejak Dini

 Mengajarkan sopan santun adalah hal yang harus ditanamkan sejak kecil. Dengan tahu cara menjaga perilaku dan sikap, orang-orang di sekitar anak Anda akan melihatnya sebagai pribadi yang baik pada masa kecil dan dewasa nantinya. Dengan memiliki rasa sopan santun, anak akan merasa lebih percaya diri saat harus bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

Sikap sopan anak merupakan cerminan dari orang tuanya. Setiap orangtua ingin melihat anak-anaknya bersopan santun. Namun, sopan santun terkadang susah diajarkan pada anak. Oleh karena itu, penting mengajarkan anak-anak agar mengerti pentingnya sopan santun ketika orangtua mengajarkan sopan santun itu sendiri. Dimana sopan santun adalah sebuah kepentingan bersama yang patut dijaga agar setiap orang dapat hidup berdampingan di dunia dan sopan santun juga merefleksikan kepribadian yang penuh cinta dan tenggang rasa.

Memang terkadang dalam mengajarkan sikap sopan santun, kita sebagai orang tua terkadang cepat naik darah jika anak melakukan sikap yang tidak sopan dan ingin mengajarkannya dalam proses yang cepat. Padahal untuk mengajarkan sikap sopan santun membutuhkan waktu yang agak lama agar anak dapat mencerna mengapa ia melakukan sikap sopan santun.

Tips berikut mungkin bisa menjadi solusi bagi anda untuk mengajarkan sopan santun pada anak seperti berikut ini:

1. Mulailah Sejak Kecil
Jangan berikan alasan kepada anak untuk tidak memiliki sopan santun hanya karena usianya yang masih kecil. Ajarkan ia mengenai sopan santun sedini mungkin. Dari saat anak Anda dapat berbicara, ajarkan mereka untuk mengatakan "Terima kasih" atau "Maaf". Semakin dini Anda memperkenalkan sopan santun kepada anak Anda, maka akan semakin baik agar sikap sopan tumbuh bukan menjadi sebuah keterpaksaan. Tapi memang menjadi sifat dasarnya.

2. Ajarkan Sikap Menghormati
Mengajarkan sopan santun perlu dimulai dari bagaimana orangtua memperlakukan anak sejak lahir. Menancapkan sopan santun dimulai dari rasa hormat kepada orang lain dan menancapkan rasa hormat dimulai dari sensitivitas terhadap orang lain termasuk anak. Anak yang sensitif akan secara alami menjadi anak yang penuh hormat karena Ia selalu peduli akan perasaan orang lain. Otomatis, anak yang sensitif juga akan menjadi anak yang sopan. Kesopanan adalah sebuah skill yang lebih kreatif dan tulus ketimbang apa yang bisa dipelajari anak dari sebuah buku etiket.

3. Teladan Sopan Santun
Ketika anak berusia 2 tahun hingga 4 tahun mereka kerap mengulang apa yang mereka dengar. Biarkan anak-anak kerap mendengar kata-kata yang baik seperti "minta tolong", "terima kasih", "terima kasih kembali", dan "permisi". Kendati kata-kata ini ditujukan pada orang lain, anak-anak dapat belajar dari apa yang mereka dengar dan lihat dari orang dewasa. Biarkan anak menangkap kesan dan situasi dari pembicaraan yang sopan.

4. Ajarkan Memanggil Nama
Cobalah membiasakan memanggil nama ketika berinteraksi dengan anak-anak. Namun tentu saja, dengan cara yang hangat. Anak-anak juga akan belajar sopan santun dengan bicara menyertakan namanya, misal, "Ayah, bolehkah Ade..." atau "Bu, apakah ibu ijinkan Ade..". Kendati sesekali permintaan anak sedikit mendesak atau memaksa, orangtua pasti akan lebih terkesan dengan kata-kata yang sopan.

5. Selalu Perhatikan Anak
Ajaklah anak-anak sesekali dalam kegiatan orang dewasa, terutama jika tak ada anak-anak lain ikut serta. Ketika anak hanya berada di antara orang dewasa, mereka akan kerap membuat masalah sebagai upaya mencari perhatian Anda. Bahkan anak yang selama ini berperilaku baik sekalipun. Cobalah memperkenalkan dan menyertakan kehadiran sang anak, ini akan mengajarkan keterampilan sosial pada anak. Tetaplah terkoneksi dan pertimbangkan situasi anak yang dapat memperlihatkan perilaku kurang menyenangkan. Selama aktivitas Anda bersama orang dewasa lain, upayakan tetap dekat dengan anak paling kecil Anda. Jangan lupa tetap lakukan kontak mata dan berbicara padanya. Bantulah anak merasa menjadi bagian dari aktivitas sehingga dapat mengusir kebosanan dan keinginan membuat masalah

6. Hindari Paksaan saat Mengajari Sopan Santun
Bahasa adalah kemampuan yang sebaiknya mengalir, bukan dipaksakan. Boleh saja sesekali Anda meminta anak mengatakan "minta tolong" atau "terima kasih". Selalu mengulang meminta anak mengatakan "kata ajaib" sebagai syarat memberikan sesuatu, akan membuat anak merasa bosan dengan kata-kata sopan sebelum mereka memahaminya. Jika Anda ingin meminta anak mengatakan "minta tolong", sebaiknya sekedar katakan saja dengan cara yang baik. Dan pastikan mereka mendengar kalimat yang Anda utarakan. Kebiasaan ini akan lebih cepat ditangkap jika Anda memberikan permintaan dengan kalimat-kalimat yang enak didengar sembari senyum di wajah orangtua.

7. Koreksi Secara Sopan
Ketika anak membuat sebuah kebodohan atau kesalahan, jaga intonasi dan suara tetap terkontrol. Tetap upayakan kontak mata dan letakkan tangan di bahunya sembari menasihati. Gestur ini merefleksikan jika orangtua mengoreksi anak karena kepeduliannya. Dan, bukan karena marah.
Kesopanan yang diperlihatkan pada anak akan menunjukkan betapa berharganya anak di mata orangtua. Dan, orangtua ingin anak belajar dari kesalahannya serta selalu mendengarkan nasihat orangtua. Kelak, anak juga akan menjadi orang dewasa yang dapat menghormati dan menghargai orang lain.

8. Berikan Contoh pada Anak
Anak-anak belajar melalui apa yang mereka lihat. Karena itu, tunjukkan anak Anda bagaimana cara bersikap yang baik. Anda juga harus melakukan apa yang Anda suruh mereka lakukan, hal ini akan menjadi contoh baik untuk anak Anda tiru nantinya.

9. Jangan Biarkan Ketika Anak Tidak Berbuat Sopan
Beberapa tata krama dan sopan santun mau tak mau harus dilakukan oleh anak Anda. Seperti jangan menggigit orang lain atau berteriak di tempat umum. Jangan biarkan anak berpikir hal-hal tersebut boleh dilakukan. Ajarkan kepadanya bahwa hal-hal seperti berterima kasih, kesopanan, menunggu giliran serta menyapa orang lain adalah hal yang harus dilakukan. Berilah pengertian bahwa hak dan kewajiban saling berhubungan. Jika ia ingin mendapatkan hak, maka ia harus melaksanakan kewajibannya.

Untuk itu sebelum mengajarkan sopan santun, kita terlebih dahulu harus memiliki sifat sopan pada diri sendiri karena anak secara tidak langsung akan mencontohkan apa yang dilihat.

Tidak ada komentar:

Designed By