Pada era globalisasi 2013 ini kutuk tidak lagi dipercaya para kawula
muda. Kutuk mengutuk mungkin hanya akan ada di cerita legenda anak yang
durhaka seperti Malin Kundang, Sangkuriang, Si Mardan dan lain
sebagainya. Cerita tersebut hanyalah sebuah cerita dongeng yang
diceritakan saat kawula muda masih kanak-kanak. Namun pernahkah kawula
muda berpikir jika hal itu benar-benar terjadi di kehidupan nyata?
Mungkin sulit diterima oleh akal sehat manusia cerita ataupun kejadian
setragis cerita yang disampaikan dalam legenda tersebut tetapi bisa saja
kejadiannya bukan sekedar anak durhaka menjadi batu mungkin saja
kecelakaan yang berakibat fatal bagi masa depan kawula muda sendiri.
Pemikiran kawula muda saat ini memang telah jauh
meninggalkan cara pemikiran orang-orang yang tradisional.Dahulu
anak-anak remaja sangatlah memercayai legenda yang diceritakan kepada
mereka tentang tragedi yang akan terjadi apabila dirinya melanggar
nasehat dan berbuat tindakan yang kurang beretika. Maka pemandangan
zaman dahulu yaitu hubungan antara kawula muda dengan kaum orang dewasa
begitu indah dipandang mata. Saling tolong-menolong, saling menghargai
dan kesopan santunan terhadap orangtua selalu terlihat dan dirasakan.
Remaja
masa kini menganggap bahwa dirinya telah mampu hidup sendiri tanpa
memiliki pikiran bahwa sebenarnya dia masih membutuhkan topangan nasehat
dari kedua orangtuanya. Telah banyak pemandangan anak yang tidak
memilik kesopansantunan terhadap orangtuanya maupun orangtua lain yang
lebih tua darinya. Remaja malah menganggap bahwa kaum sepermainannya
atau sebayanyalah yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangannya
dan remaja biasannya lebih mendegarkan ucapan ataupun ajaran dari teman
sepergaulannya. Maka tidak jarang kita melihat banyak kawula muda yang
terjerumus terhadap hal-hal yang negatif seperti pergaulan bebas, seks
bebas, bahkan menggunakan obat-obatan terlarang bersebab ikut-ikutan
gaya dan nasehat teman sepergaulannya.
Remaja yang seharusnya
menjadi penerus bangsa kelak setelah dewasa telah banyak terkontaminasi
dengan pengaruh buruk lingkungan pergaulannya. Remaja lebih memilih
akrab dan sopan terhadap seusianya daripada sopan dan santun terhadap
orangtuanya dan orang-orang yang lebih tua dari dirinya. Remaja
menganggap bahwa yang lebih mengerti dan memahami diri mereka sepenuhnya
adalah sebayanya. Kita dapat menilik cara pandang kehidupan remaja masa
kini di lingkungan kita saat ini.
Banyak fenomena yang
mempertontonkan bahwa banyak remaja yang sudah tidak takut lagi
melakukan perbuatan tidak beretika seperti merokok saat menggunakan
seragam sekolah, melewati orangtua yang sedang berjalan dengan
menyenggol tanpa miminta ijin dan memohon maaf setelah menabrak, mencaci
orang yang menasehatinya karena menganggap dirinya sendirilah yang
benar. Jika sudah demikian, Jadi dimana budaya santun remaja masa kini?
Sangat
ironis dan tragis perbuatan yang dilakukan kawula muda saat ini. Jika
diteliti dan disurvei berapa orang jumlah remaja yang masih memiliki
sifat kesopan santunan mungkin jawabannya satu berbanding seribu orang.
Kalau begitu siapapun anda yang masih memiliki jiwa sopan dan santun
maka bersyukurlah dan berdoalah kepada sang pencipta semoga kawula muda
semakin dikaruniai dengan sifat mulia tersebut.
Orangtua yang
dianggap sebagai Tuhan di dunia ialah seorang perempuan yang melahirkan
kita yang kita sebut Ibu dan juga seorang pendamping hidupnya untuk
menafkahi kita yang kita panggil Bapak. Selain kita harus patuh dan taat
akan nasehat dan larangan orangtua kita juga harus memiliki etika juga
sopan santun terhadap mereka. Kawula muda juga perlu mengetahui bahwa di
dunia ini yang wajib kita hormati bukan saja mereka tetapi masih ada
orang lain yaitu orang yang lebih tua dari kita.
Di sekolah yang
wajib kita hormati ialah guru-guru kita dan di masyarakat kita wajib
bersikap sopan dan santun terhadap orang yang lebih tua umurnya dari
kita. Sebagai kawula muda yang telah mencicipi pendidikan maka
selayaknya kita menunjukkan citra kita sebagi seorang pelajar. Kaum
terpelajar adalah orang-orang yang memiliki tata krama dan sopan santun
baik terhadap ibu dan bapaknya maupun terhadap orang-orang lain yang
usianya lebih tua darinya.
Jika memang kita tidak mengenal siapa
orang tersebut maka baiklah kita bertutursapa dengan sopan dan santun
atau jika kita sedang berjalan di lingkungan masyarakat jika memang kita
tidak ingin menyapa dengan kata-kata kita bisa menyapa dengan wajah
tersenyum.
Kawula muda perlu tahu bahwa orangtua sangat bangga
jika melihat anaknya dikagumi dan disenangi oleh teman-temannya. Kita
perlu tahu bahwa orangtua diam-diam sering menceritakan kebaikan
anakknya kepada temannya. Nah jika kawula muda telah berlaku baik di
rumah namun kepada orang lain berlaku tidak sopan maka cerita orangtua
kita yang baik tentang diri kita sama saja bohong. Orang lain akan
menganggap bahwa orangtua kita berbohong dan menganggap bahwa orangtua
kita gagal dalam mendidik kita. Tentunya kawula muda tidak ingin kan
kalau orangtua kita dicap buruk oleh orang lain? maka mulailah membangun
sikap yang berbudi luhur dan jangan pernah meninggalkan sikap sopan dan
santun terhadap orang lain.
Kawula muda jangan pernah ragu
ataupun kuatir akan ocehan teman sepergaulan kita. Orang-orang yang
menghargai juga menghormati orangtua dengan sikap sopan santun sangatlah
mulia dihadapan sang Pencipta. Bahkan kawula muda tidak perlu galau
jika dicap jadul ataupun kuno karena dengan menghargai dan menghormati
orangtua surga yang berada di bawah telapak kaki ibu sangat besar
kemungkinannya diberikan kepada kawula muda sekalian. Jika orangtua
telah merasa dihormati dan kawula muda mendengarkan nasehat dari mereka
maka orangtua akan selalu mendoakan surga yang berada pada mereka untuk
diberikan kepada anaknya.
Kebanggaan yang begitu besar juga akan
dirasakan orangtua saat melihat anaknya yang masih muda sudah mau
membantu dan menolong orangtua lain yang sedang kesusahan menyebrangi
jalan, mengangkat beban berat dan selau menyapa orang-orang lain
disekelilingnya. Menghormati orangtua bukan saja menghormati orangtua
sendiri tetapi juga menghormati orang lain. Menghormati disini bukanlah
memberi hormat kepada siapa saja orangtua yang lewat diberi hormat
tetapi cara berperilaku di hadapan orangtua harus lebih sopan dan santun
dari pada dihadapan kawan.
Sebagai kawula muda yang terpelajar
kita tidak boleh menyamakan kedudukan kawan sepermainan kita dengan
orangtua. Kawula muda memiliki tingkatan dibawah orangtua tetapi jika
kawula muda memiliki sikap yang sopan dan santun di hadapan orangtua
maka posisi kita diatas mereka di hati para orangtua. Alangkah indah
dunia ini jika kawula muda bersikap sopan dan santun bukan? Nah mulai
sekarang mulailah belajar dan mencintai sifat sopan dan santun dan
jangan lupa untuk menerapkannya di dalam kehidupan para kawula muda ya!
Sopan santun akan menyatukan kaum muda dan tua di posisi yang sama-sama
namun masih ditingkatan berbeda. Yang muda harus lebih menghormati dan
lebih sopan dan bersantun dong bagi orangtua. Setuju? Pasti Setuju. (
lestari l. sibarani/eva rosanti)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar